
Menggali Perkembangan Public Relations: Dari Penyebaran Informasi hingga Strategi Terpadu
October 29, 2024
Media Digital dan Perannya dalam Dakwah Islam di Era Modern
October 29, 2024Mengasah Teknik Wawancara: Memperoleh Informasi Bernilai dalam Jurnalistik
Wawancara adalah inti dari kerja seorang jurnalis, cara untuk menggali informasi langsung dari narasumber dan membangun narasi berita yang lebih hidup dan informatif. Proses wawancara tidak hanya sekadar bertanya dan mencatat jawaban, melainkan melibatkan keterampilan mendalam untuk memahami konteks, menggali informasi yang relevan, dan membangun hubungan baik dengan narasumber. Dalam dunia jurnalistik yang semakin menuntut ketepatan dan kecepatan, kemampuan wawancara menjadi salah satu keterampilan utama yang harus dikuasai setiap jurnalis.

Menyiapkan Wawancara dengan Baik
Kesuksesan wawancara sering kali ditentukan oleh persiapan yang matang. Riset awal tentang narasumber dan topik yang akan dibahas memberikan gambaran penting bagi jurnalis mengenai apa yang perlu digali. Persiapan ini meliputi memahami latar belakang narasumber, isu yang akan dibicarakan, dan sudut pandang yang relevan dengan topik berita. Menurut Jurnal Komunikasi Indonesia (Arifin, 2021), persiapan yang baik memungkinkan jurnalis untuk lebih fokus selama wawancara dan meminimalisir pertanyaan yang bersifat umum atau tidak relevan.
Selain itu, penyusunan daftar pertanyaan yang jelas dan terstruktur sangat membantu dalam menjaga alur wawancara. Ada baiknya pertanyaan disusun dari yang paling umum hingga pertanyaan yang lebih mendalam, sehingga narasumber merasa nyaman untuk terbuka secara bertahap.
Mengembangkan Teknik Mendengar Aktif
Teknik mendengar aktif adalah keterampilan yang esensial dalam wawancara. Saat berhadapan dengan narasumber, seorang jurnalis harus mampu mendengar dengan penuh perhatian, menyimak baik-baik, dan tidak terburu-buru menyiapkan pertanyaan berikutnya. Mendengar dengan aktif memungkinkan jurnalis untuk menangkap detail-detail penting yang mungkin terlupakan jika hanya fokus pada pertanyaan yang sudah disiapkan. Menurut studi dari Jurnal Media Komunikasi (Rahman, 2020), teknik mendengar aktif juga membantu jurnalis membangun hubungan yang lebih baik dengan narasumber, sehingga wawancara terasa lebih alami dan lancar.
Mengajukan Pertanyaan Terbuka dan Netral
Pertanyaan yang baik adalah kunci utama wawancara yang efektif. Pertanyaan terbuka yang memungkinkan narasumber untuk memberikan jawaban yang rinci lebih diutamakan daripada pertanyaan tertutup yang hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak.” Pertanyaan seperti, “Bagaimana Anda melihat perkembangan isu ini?” atau “Apa yang mendorong Anda untuk mengambil keputusan tersebut?” memberikan ruang bagi narasumber untuk mengungkapkan pandangan dan pengalaman mereka.
Selain itu, seorang jurnalis harus menjaga sikap netral dan tidak memaksakan opini pribadi. Pendekatan netral membuat narasumber merasa lebih nyaman untuk berbicara terbuka tanpa merasa dihakimi atau diarahkan.
Menggali Lebih Dalam dengan Teknik Follow-Up
Terkadang jawaban awal dari narasumber hanya memberikan gambaran umum. Oleh karena itu, penting bagi jurnalis untuk memiliki teknik follow-up atau menindaklanjuti jawaban dengan pertanyaan yang lebih mendalam. Pertanyaan lanjutan ini membantu menggali informasi lebih spesifik dan memberikan kejelasan pada topik yang dibahas. Teknik follow-up ini memungkinkan jurnalis mengelaborasi detail-detail yang mungkin tidak muncul di awal.
Mengendalikan Suasana Wawancara
Seorang jurnalis yang baik tidak hanya berperan sebagai pewawancara tetapi juga harus mampu mengendalikan suasana. Hal ini termasuk menjaga sikap profesional, namun tetap membuat narasumber merasa nyaman dan terbuka. Pendekatan yang terlalu kaku atau formal kadang membuat narasumber merasa tertekan. Menurut penelitian dari Jurnal Etika Media (Setiawan, 2019), jurnalis yang mampu menjaga suasana positif selama wawancara sering kali mendapatkan jawaban yang lebih terbuka dan mendalam dari narasumber.
Menutup Wawancara dengan Profesional
Setelah seluruh pertanyaan selesai diajukan, jurnalis perlu menutup wawancara dengan cara yang sopan dan profesional. Mengucapkan terima kasih dan memberikan kesempatan bagi narasumber untuk menyampaikan hal-hal tambahan yang mungkin belum terbahas dapat menambah kedalaman wawancara. Ini juga membangun kesan baik yang sangat penting jika narasumber tersebut akan diwawancarai kembali di masa mendatang.
Kesimpulan: Menguasai Wawancara sebagai Senjata Andalan Jurnalis
Teknik wawancara adalah salah satu fondasi terpenting dalam jurnalistik yang tidak hanya membutuhkan persiapan dan keterampilan bertanya, tetapi juga kemampuan untuk membangun hubungan dengan narasumber. Setiap jurnalis yang ingin sukses perlu terus mengasah kemampuan ini, karena wawancara yang efektif dapat menghasilkan berita yang akurat, bernilai, dan bermanfaat bagi publik.
Referensi:
- Arifin, S. (2021). Persiapan Wawancara yang Efektif dalam Jurnalistik. Jurnal Komunikasi Indonesia, 11(2), 105-120.
- Rahman, D. (2020). Pentingnya Teknik Mendengar Aktif dalam Proses Wawancara. Jurnal Media Komunikasi, 9(1), 45-58.
- Setiawan, M. (2019). Etika dan Sikap Profesional dalam Wawancara Jurnalistik. Jurnal Etika Media, 8(3), 122-138.
- Sari, A. (2022). Strategi Mengembangkan Pertanyaan dalam Wawancara. Jurnal Komunikasi Publik, 7(4), 88-99.
- Wijaya, T. (2020). Teknik Wawancara Jurnalistik di Era Digital. Jurnal Komunikasi Modern, 6(1), 101-115.

7 Comments
Dalam wawancara persiapan adalah harus disiapkan dengan baik.
Begitu juga teknik mendengar narasumber dalam wawancara juga harus diperhatikan.
pewawancara perlu membangun chemistry yg baik dengan narasumbernya.
Wawancara bertujuan untuk mengumpulkan berbagai data berupa informasi, hal tersebut tidak akan terkumpul tanpa adanya pengembangan teknik dalam memperoleh informasi. Seorang jurnalis yang baik tidak cukup mempersiapkan cara untuk bertanya tetapi harus bisa bersikap profesional tentang bagaimana cara berhubungan baik dengan narasumber.
Jurnalisis yang baik adalah jurnalis yang tentu juga memperhatikan bagaimana teknik wawancara yang baik, wawancara yang baik adalah wawancara yang tentu di persiapkan dengan matang tentang bagaimana membangun hubungan yang baik dengan narasumber bagaimana mempersiapkan pertanyaan pertanyaan yang akan di tanyakan kepada narasumber di mana bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan dapat di terimah oleh masyarakat umum.
Tentunya tidak hanya sebagai jurnalis biasa, didalam situ ada etika-etika jurnalis yg harus diterapkan, langkah-langkah atau teknik jurnalis dengan benar. Mewawancara dengan benar, dengan menggunakan cara² seperti diatas itu. Dari artikel ini kita mengetahui bagaimana teknik jurnalis yg baik dan lebih efektif yang mempunyai nilai yang tinggi.
haii Bu Nanda saya mau bertanya nih,follow up contoh nya seperti apa ya,saya masih kurang memahami bagian itu,, terimakasih 😊😊😊
Untuk menjadi jurnalis yang baik, tentunya kita harus mempersiapkan dengan baik. Dan mempunyai langkah langkah seperti di atas. Begitupun dengan pewawancara harus mempunyai persiapan yang matang, mulai dari pertanyaan, bahasa yang baik dll.
Untuk teknis wawancara memang sepatutnya kita harus menjaga sikap dan mengatur kata2 dalam pertanyaan yg dikeluarkan. Namun walaupun memang sepantasnya seperti ada memang ada kata2 yg kita ucapkan dalam bertanya itu merupakan kata yg netral dan kata baik, akan tetapi mengenai dari pihak yg di wawancari merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu ntah itu mencakup privasi atau lainnya. Apakah hal tersebut boleh saja kita lakukan atau sebaiknya kita memahami terlebih dahulu kondisi yg kita wawancari?