Agenda Setting: Ketika Media Menentukan Apa yang Kita Anggap Penting

Teori Spiral Keheningan: Ketika Ketakutan Sosial Membuat Orang Memilih Diam
May 20, 2026
Teori Jarum Hipodermik: Ketika Media Dianggap Bisa “Menyuntik” Pikiran Publik
May 20, 2026
Teori Spiral Keheningan: Ketika Ketakutan Sosial Membuat Orang Memilih Diam
May 20, 2026
Teori Jarum Hipodermik: Ketika Media Dianggap Bisa “Menyuntik” Pikiran Publik
May 20, 2026

Agenda Setting: Ketika Media Menentukan Apa yang Kita Anggap Penting

Maxwell McCombs dan Donald Shaw melalui Teori Agenda Setting menjelaskan bahwa media memiliki kemampuan besar dalam membentuk perhatian publik terhadap suatu isu. Media mungkin tidak selalu berhasil memengaruhi apa yang harus dipikirkan masyarakat, tetapi media sangat berhasil menentukan tentang apa masyarakat harus berpikir.

Teori ini lahir dari penelitian pemilu Presiden Amerika Serikat tahun 1968. McCombs dan Shaw menemukan bahwa isu yang dianggap penting oleh pemilih ternyata sangat mirip dengan isu yang paling sering diberitakan media. Artinya, intensitas pemberitaan media dapat membentuk persepsi masyarakat mengenai prioritas sosial.

Dalam praktiknya, media melakukan seleksi terhadap realitas. Tidak semua peristiwa mendapatkan ruang yang sama. Ada isu yang terus diangkat hingga menjadi perhatian nasional, sementara isu lain tenggelam tanpa perhatian publik. Ketika media terus memberitakan kriminalitas, masyarakat merasa keamanan sedang krisis. Ketika media fokus pada isu ekonomi, publik merasa ekonomi adalah persoalan utama bangsa.

Agenda setting juga berkembang menjadi level kedua, yaitu bagaimana media membingkai suatu isu. Media tidak hanya menentukan isu apa yang penting, tetapi juga menentukan bagaimana publik memahami isu tersebut. Demonstrasi mahasiswa, misalnya, dapat digambarkan sebagai perjuangan demokrasi atau justru ancaman ketertiban sosial, tergantung sudut pandang media.

Di era digital, agenda setting menjadi semakin kompleks. Kini agenda tidak hanya dibentuk media televisi atau surat kabar, tetapi juga oleh algoritma media sosial, influencer, buzzer, dan trending topic. Apa yang viral sering dianggap penting, meskipun tidak selalu substantif. Akibatnya, masyarakat mudah terseret pada isu-isu sensasional yang emosional dan dangkal.

Dalam konteks dakwah, teori agenda setting memiliki relevansi besar. Media dakwah hari ini ikut menentukan arah perhatian umat Islam. Ketika media dakwah lebih sering membahas kontroversi, publik akan sibuk pada konflik. Sebaliknya, jika media dakwah konsisten mengangkat isu pendidikan, etika sosial, kemiskinan, atau moderasi beragama, maka kesadaran umat juga akan bergerak ke arah tersebut.

Karena itu, dai modern tidak cukup hanya menjadi penyampai ceramah, tetapi juga harus menjadi agenda builder. Dakwah digital harus mampu menentukan isu strategis yang benar-benar dibutuhkan umat, bukan sekadar mengikuti arus viralitas media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

สล็อตเว็บตรง